Oleh:

hendri

Pada tangggal 7 Januari 2018 yang lalu, saya mendapat perintah dari Kadis Kominfo, agar saya hadir di Nagari Koto Ranah, Kecamatan Koto Besar, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, pada hari Senin (8/1) pukul 08.00 WIB dalam rangka menghadiri Apel Gabungan dan Rapat Koordinasi di nagari tersebut.

Setelah sarapan pagi dirumah, saya hidupkan mobil dan tancap gas menuju lokasi yang saya perkirakan setengah jam dari rumah saya. Alhamdulillah, tanpa ada hambatan yang berarti saya tiba di lokasi jam delapan kurang lima menit. Mobil saya masih bisa masuk ke halaman kantor Wali Nagari Koto Ranah dengan tenang, walau semua unsur peserta apel sudah mulai berdiri di halaman, untuk menyusun barisan.

Tepat pukul 08.00 WIB apel gabungan dimulai dan pintu gerbang ditutup. Saya langsung diminta menjadi pembina apel gabungan.

Karena sudah biasa mengambil apel di Dinas Kominfo, rasa grogi itu agak kurang. Namun karena peserta apel hari ini berbeda dari hari biasanya, ada juga sedikit rasa tegang dan grogi, namun tidak mempengaruhi kata-kata yang akan saya sampaikan. Semua berjalan baik dan lancar, sampai apel gabungan itu selesai dan peserta dapat digubarkan.

Peserta apel gabungan itu terdiri dari perwakilan dari Camat Koto Besar, perwakilan dari Kapolsek Sungai Rumbai, karena Kecamatan Koto Besar masih bergabung dengan Kapolsek Sungai Rumbai, perwakilan dari Koramil Koto Baru, karena Koramil Kecamatan Koto Besar juga belum ada dan masih bergabung dengan Koramil Koto Baru.

Selain itu juga hadir anngota Bamus, LPM, perangkat Nagari Koto Ranah, PKK, BUNMAG, Perwakilan dari Kepala Sekolah, Bidan Desa, dan tidak ketinggalan perwakilan dari orang Kubu atau lebih sering disebut Suku Anak Dalam (SAD), yang juga sempat hadir dan mengikuti apel gabungan itu dengan tenang dan khidmat.

Kalau melihat orang kubu ini, saya jadi teringat di koto baru tempo dulu. Ketika saya masih SD, sekitar tahun 1970 an, kalau ada orang kubu itu datang ke pasar koto baru, semua orang berkeliling mengerumuni mereka, anak kecil tidak boleh mendekat, dan juga tidak boleh meludah di dekat mereka, karena dikuatirkan akan terayu oleh orang kubu itu masuk kelompok mereka dan dibawa ke hutan tempat tinggal mereka.

Memang kadang-kadang kalau dekat dengan mereka rasanya kepengen meludah dan tutup hidung. Karena bau badan mereka luar biasa menyengat, karena memang mereka tidak pernah mandi. Kulitnya hitam, rambutnya kumal dan kaki mereka tidak pakai sandal.

Setelah apel gabungan usai, orang kubu itu dipanggil oleh Wali Nagari Koto Ranah, Marzuki Zein, mendekat ke dekat kami yang masih berdiri di halaman, sebelum masuk ke dalam ruangan rapat koordinasi.

Lalu ditanyakan oleh pak wali itu, apa kira kira yang bisa kami bantu, dengan gaya bicara yang sesuai dengan logat mereka. Sepertinya wali nagari ini sudah kenal dan tahu kelompok mereka. Sehingga dari perbincangan singkat itu, ternyata mereka ingin mengurus KTP dan ingin menetap di Nagari Koto Ranah.

Buluh roma saya sampai merinding mendengar kata-kata itu langsung dari mulut orang kubu itu, walau saya tidak sempat menanyakan siapa namanya. Jiwa wartawan saya langsung muncul, suatu saat akan saya tulis kata-kata dari orang kubu itu, agar semua orang tahu dan mau membantu mereka.

"Kami sudah malu pak, pindah dari hutan ke hutan, makanya kami ingin menetap di daerah ini. Karena orang disini baik-baik. Kalau bisa kami ingin mengurus KTP disini. Kemudian kalau sudah ada KTP, kami juga ingin menyekolahkan anak-anak kami, pak. Kami juga ingin anak-anak kami pintar seperti bapak-bapak" kata orang kubu itu dengan logat mereka yang terbata-bata.

Entah bagaimana perasaan saya ketika itu, berkecamuk, antara pengalaman saya waktu kecil dengan fakta yang saya rasakan saat ini.

Akhirnya saya hanya bisa menyarankan kepada pak Wali Koto Ranah, agar dapat membantu mereka dan menjembatani mereka dengan pihak Dinas Dukcapil dan pihak kecamatan Koto Besar.

Ketika saya tanya sama orang kubu itu, kira-kira berapa jumlah mereka saat ini dalam satu kelompok. Katanya sekitar 13 KK. Satu KK itu ada anaknya dua orang, sampai lima orang.

Ketika berbincang itu, saya sangat dekat orang kubu itu, tapi saya tidak lagi mencium bau yang tidak sedap seperti saya rasakan waktu kecil dulu, kulitnya sudak agak bersih, rambutnya juga tidak begitu dekil lagi, walau masih kusut, seperti tidak pernah kena sisir. Tapi sekarang sudah pakai sandal, walau belum begitu pas dikakinya.

Pengalaman ini sangat berbekas dihati saya dan terkesan secara pribadi. Makanya, saya ingin tuangkan dalam tulisan ini, agar orang lain bisa merasakan apa yang saya rasakan.

Bagi pihak yang terkait dengan permasahan ini, agar bisa tersentuh hatinya untuk membantu dan mewujudkan harapan dan cita-cita mulia dari orang kubu atau suku anak dalam itu.

Sebagai orang yang bekerja di Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat, saya merasa punya tanggungjawab moral untuk menyampaikan informasi ini, agar instansi terkait juga terbuka pintu hatinya dalam mewujudkan keinginan dan cita-cita mulia dari orang kubu atau Suku Anak Dalam itu. @